Senja memutarkan arahnya padaku
Menawarkan segudang rasa yang kian temaram
Lukisan indah berbaur duka
Menyahat hati yang tak henti tuk dimengerti
Aku tersenyum sejenak melewati rasa lelahku akan tawa bersama sahabat-sahabatku seharian ini. helaan napas lega mulai terasa dari sudut mulutku.
“bagaimana dengan aray???”tanya Dinda.
Aku tersenyum malu. Semuanya meledekku seperti aku pertama kalinya merasakan perasaan ini. namun, kami terhenti tuk tertawa melihat sorotan mata Dinda.
“hmm..ada yang ingin aku katakan ke kamu,Clara” kata dinda.
Kami menahan napas, menunggu kalimat yang mungkin sangat penting bagi kami,oh bagiku pastinya. Feelku berujar pedih akan ku rasa. Biarlah,,setidaknya tiada rahasia demi persahabatan ini.
“aray,,masih mencintai mantannya, dia berharap banyak meski sang mantan tak memberikan kesempatan” lirih dinda.
Deg..guncangan keras menyelimuti bersihnya kalbuku yang penuh dengan kebahagiaan. Sungguh jauh dari kerelaanku, ketulusanku seakan hanya gulir penyemangat iseng baginya,,mungkin. Aah..mulai dengan kemungkinan saat ini.
“ aku percaya aray,,dia berani belajar..belajar menyayangi” pura-puraku tegar.
Kami berpelukan, aku tahu mereka sebenarnya merasakan perihku. Merasakan hantaman yang tiada terduga di sore hari seperti ini.
“benarkah aku bodoh??” tanyaku kemudian.
“claraaa…”serempak mereka bertiga.
Diam..kami tak menyeruakan apapun. Satu persatu sahabatku pulang karena sore mulai beralih dengan waktu malam.
Malam ini..ku dengarkan alunan sendu dari hatiku
Periakan perih..tak terelakan..
Dasyatnya rasa indah yang berubah seketika menjadi desiran mendung
Ketakutan terdalih kekuatan namun,,kini….
Kini..yua..kini ku tak ku ketahui kemana langkahku pergi
……….
“De..belajar” suara bass kakakku mengagetkanku.
Aku hanya tersenyum, berdiri dan mengambil buku tuk aku pegang, setidaknya membuat kakak dan mamaku tak bingung dengan kondisiku.
“kalau masih sakit,,besok nggak usah masuk lagi” perintah mamaku datar.
Aku menggelengkan kepala, aku menuju ruang tamu, aku bersandar di sofa dan membiarkan buku-buku menjadi berantakan di meja.
“di meja belajar gih,,kakak udah selesai koq maenan laptopmu” pinta kakakku.
“tak usah,,,lagi pengen disini ajah” ucapku.
Aku mencoba berkonsentrasi dengan dayaku ini, berharap otakku dan perasaanku dapat berkoheren dengan baik.
Pecah…kabuur…entahlah
Tiada makna satupun yang ku tangkap
Arti dari belajar..hmm..susah sekali
Berkali-kali aku mencoba soal yang sama hingga aku ingin menangis
“bukankah materi itu kemarin kamu dapat nilai sempurna?” penasaran kakakku.
“ih dari tadi kakak liatin aku belajar yua?ember..ini tuh gampang..makanya pura-pura kesulitan biar terkesa menarik” jawabku bohong.
“semua yang berawal dari kepura-puraan bisa menjadi kenyataan” ingat mamaku.
Hampir aku melupakaan perumpaan pura-pura yang jua ku dapat dari guru di sekolahku. Lntas…what should i do???pikiranku hanya tertuju pada sesosok yang tak pernah mengaggapku ada….Tuhan…help me .
…………
Dengan menjauhkan buliran ketakutan, aku datang menemui aray, entah apa yang ingin di katakan aray padaku..makiankah??hinaan??atau mengucapkan selamat tinggal.
Pakaianku yang hampir lusuh karena teriknya mentari di siang ini serta keringat yang hampir abis setelah melalui ulangan yang melelahkan. Jauh..sempat putus asa tuk bertemu dengannya.
Hampir setengah jam, aku duduk di taman dekat halte. Hanya orang yang berlalu lalang tanpa aku kenali. Tiba-tiba sebuah bus terhenti,,aku berdiri ku harap araylah yang turun dan akan menyapaku. Punah,,bukan aray..hanya segerombolan anak sekolah yang sama-sama lelah dengan aktivitas hari ini.
Terasa ada yang memegang bahuku, aah pasti aray. Degupan gencang mulai menyulut, aku membenarkan posisiku tuk berhadapan dengannya.
“sorry clara,,ini aku dimas”sapa Pacar Dinda ini.
Aku masih bertanya dalam hati ini, tumben ini anak pergi tanpa Dinda.
“Aray takkan datang…”hati-hati sekali Dimas berkata.
Aku menelan ludah…mengucur aliran darahku..desiran merajut ke sukmaku. Apakah benar adanya???dia… aray.. tak pernah ingin bersendau gurau denganku secara langsung. Dia..aray..manusia tampan yang tak ingin menyentuh luka di hatiku. Ya..Aray..cowok yang aku banggakan namun,,aku bagaikan bangkai busuk.
“Dia hanya menganggapmu teman..sahabat, tak lebih. Pulanglah bersamaku” ajak Dimas.
“dimas..kau bersahabat denganku jauh sebelum kau bersama Dinda. Bukankah kau tahu aku seperti apa?kau mengerti betapa torehan sayang yang aku kubur dalam setiap detikku demi orang yang aku cinta??” sontakku tak bisa melampiaskan kekecewaanku.
“aku tahu.. makanya aku memaksamu pulang. Sampai kapanpun dia tak datang. Mungkin..dia tak ingin kau semakin terluka.”
Ku kibaskan tangan Dimas yang ingin menggeretku pulang, Ku paksa dengan atas nama sahabat agar dia pulang tanpa aku, Ku lampiaskan kekesalanku pada sahabatku ini yang tak berdosa. Dimas paham posisiku, Dia melangkah jauh dariku dan membiarkan aku terangai pahit di atas taman yang asri ini.
Wahai kau dewa sayang dari ribuan sayang yang aku abaikan
Disini aku masih menantimu dalam belas kasihmu
Mengatakan kau akan meneruskan belajar tuk menjadi yang terbaik di hatiku
Janji waktu yang kita tanggalkan
Kebersamaan perih terencangankan
Nodakah semua itu karena sebuah nama??nama yang sama sekali tak pernah aku kenal.. nama yang menghancurkan harapanku padamu..
Aray..sadarkah??kau baginya hanyalah sampah.
Aray..mengertikah??dengan tangan terbuka aku memungut lukamu
Aray..justru kau disini memarahiku..mengapa menyentuh sakitmu?
Aray..kau tak bergeming..
Aray..kau hancurkan aku..kau bagikan luka tanpa kau sadari
Detik mulai menunjukan besarnya, mendung mulai berkiblat. Aku masih tersimpuh di dedaunan yang jatuh,,jatuh seperti pasrahku.. mekar tak terkendali jiwaku mengingatmu.
Gerimis menyapaku..aku sangat bersyukur setidaknya linangan air mataku tak ada yang mampu mendefisinikan.
Bahuku tak lagi dingin, seorang yang aku nanti tlah datang. Dia menyibakan jaketnya padaku.
“pulanglah..jangan harapkan aku” Ucap aray tanpa ekspresi.
Deg..beringai dan campur aduk..ku rasa semua orang kini mengerti lukaku. Benarkah ini yang dia inginkan..lalu sikap friendly siapa sajakah yang ia bagi???
Bahu yang sempat hangat kini terasa seribu kali lipat dinginnya.. layaknya aku sedang di berada di kutub tanpa mentari yang tersenyum padaku.
Di dasar lubuk hatikku..aku hanya bertanya :
“haruskah aku terhenti?????”
Aray menghilang begitu saja, dia meninggalkanku di ujung hujan. Aaah tidak,, dia pergi tuk menghentikan jiwa ceriaku..aah sudahlah aku memang bodoh.
……….
Aku menaikan kerah jakteku di pagi ini. dingin..yua..hanya dingin yang dapat aku rasakan. Tiada kehangatan apalagi panas..semua terasa dingin.
Sejak itu,, Aray..seakan menghubungiku tuk mengatakan jangan mengganggunya meski dengan nada yang sungguh sangat sopan dan tersirat.
Aku termenung di belakang lelahku..
Dia tak bergeming..dia tak bernyawa denganku..
Aku mengernyitkan sendau gurau yang dulu terbentuk..
Dia terdiam..dia bahagia dengan jiwa yang tlah tak menginginkannya
Melankolis..ataukah…phlegamathis???
Entahlah..aku masih tegak..
Aku kokoh dengan runtuhan yang kau berikan
Aku tetaplah sanguinis..yang ceria dan menjadi tawa yang membutuhkan.
…………….

Desiran halus merebak di sentral pikiranku
Dimanakah kau hidup??hati..jantung…otak kanan atau otak kiriku??
Namun,,aku tahu dimana aku hidup?? Dalam rohani sahabat yang membutuhkan semangat.
Tancap berbilah ruhku…
Aku masih menjadi orang yang bodoh dan mengulangnya sampai detik ini
Kehilangan konsentrasiku karenamu
Aray…clara…dua makhluk yang berbanding terbalik
Namun,,mereka sama merasakan sakit dan luka yang ia cintai..
Clara mengagumi aray???benarkah????entahlah…
Aray membenci clara???mungkinkah???entahlah..
Satu yang terasa…satu yang tertanyakan…
“Aray..haruskah clara berhenti menyentuh lukamu tuk mencairkan darah indah abadi dalam naungan bersama atas nama Cinta??”



































